Pengertian dan Tujuan Mempelajari Ilmu Akhlak Tasawuf

by Abdurrahman on 03:41 AM, 01-Apr-12

Category: Ilmu Pengetahuan

BAB I

PENDAHULUAN

 

Akhlak Tasawuf adalah merupakan salah satu khazanah intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan, secara historis dengan teologis akhlak tasawuf tampil mengawal dan memandu perjalanan hidup umat agar selamat dunia dan akhirat. Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad saw. adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima.

 

Melihat betapa pentingnya akhlak tasawuf dalam kehidupan ini tidaklah menghe-rankan jika akhlak tasawuf ditentukan sebagai mata kuliah yang wajib diikuti oleh kita semua.

 

Untuk mengungkap segala permasalahan yang terkait dengan Akhlak Tasawuf, kami akan mencoba menguraikannya dalam makalah singkat yang berjudul Pengertian dan Tujuan Mempelajari Ilmu Akhlak Tasawuf.

 

BAB II

PENGERTIAN DAN TUJUAN MEMPELAJARI

ILMU AKHLAK TASAWUF

 

A.   Pengertian dan Tujuan Mempelajari Ilmu Akhlak

Kata “akhlak” berasal dari bahasa Arab, jamak dari khuluqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun yang berarti kejadian, yang juga erat hubu-ngannya dengan khaliq yang berarti pencipta; demikian pula dengan makhluqun yang berarti yang diciptakan.

Perumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluk.

Ibnu Athir menjelaskan bahwa: “Hakikat makna khuluq itu, ialah gambaran batin manusia yang tepat (yaitu jiwa dan sifat-sifatnya), sedang khalqu merupakan gambaran bentuk luarnya (raut muka, warna kulit, tinggi rendahnya tubuh dan lain sebagainya”.

Ibnu Maskawaih memberikan definisi sebagai berikut:

حَالٌ لِلنَّفْسِ دَاعِيَةٌ لَهَا اِلَى اَفْعَالِهَا مِنْ غَيرِ فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ

Artinya:

“Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (lebih dahulu)”.

Imam Al-Ghazali mengemukakan definisi Akhlak sebagai berikut:

اَلْخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِى النَّفْسِ رَاسِخَةٍ عَنْهَا تَصْدُرُ الْأَفْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ اِلَى فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ

Artinya:

“Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dahulu)”.

Prof. Dr. Ahmad Amin memberikan definisi, bahwa yang disebut akhlak “Aratul-Iradah, atau kehendak yang dibiasakan. Definisi ini terdapat dalam suatu tulisannya yang berbunyi:

عَرَّ فَ بَعْضُهُمُ الْخُلُقَ بِأَنَّهُ عَادَةُ الْاِرَادَةِ يَعْنِى أَنَّ الْإرَادَةَ اِذَا اعْتَادَتْ شَيْأً فَعَادَتُهَا هِيَ الْمُسَمَّاةُ بِالْخُلُقِ

Artinya:

“Sementara orang membuat definisi akhlak, bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak”.1

Sekalipun ketiga definisi akhlak diatas berbeda kata-katanya, tetapi sebenarnya tidak berjauhan maksudnya, bahkan berdekatan artinya satu dengan yang lain. Sehing-ga Prof. KH. Farid Ma’ruf membuat kesimpulan tentang definisi akhlak ini sebagai berikut: “Kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu”.2

Dari beberapa pengertian tersebut diatas, dapatlah dimengerti bahwa akhlak ada-lah tabiat atau sifat seseorang, yakni keadaan jiwa yang telah terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbua-tan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan diangan-angan lagi.

Maksud perbuatan yang dilahirkan dengan mudah tanpa pikir lagi disini bukan berarti bahwa perbuatan tersebut dilakukan dengan tidak sengaja atau tidak dike-hendaki. Jadi perbuatan-perbuatan yang dilakukan itu benar-benar sudah merupakan “azimah”, yakni kemauan yang kuat tentang sesuatu perbuatan, oleh karenanya jelas perbuatan itu memang sengaja dikehendaki adanya. Hanya saja karena keadaan yang demikian itu dilakukan secara kontinyu, sehingga sudah menjadi adat/kebiasaan untuk melakukannya, dan karenanya timbullah perbuatan itu dengan mudah tanpa dipikir lagi.

Perlu dijelaskan pula bahwa memang sering perbuatan itu dilakukan secara kebe-tulan tanpa adanya kemauan atau tanpa dikehendaki, atau juga sesuatu perbuatan yang dilakukan sekali atau beberapa kali saja, begitu pula suatu perbuatan yang dilakukan tanpa adanya ikhtiar dan kebebasan, dalam arti dilakukannya perbuatan tersebut dengan terpaksa, maka perbuatan-perbuatan seperti tersebut diatas tidaklah dapat di-kategorikan kedalam “akhlak”.

Dapatlah dicontohkan disini, seseorang tidaklah dikatakan berakhlak dermawan, apabila dalam memberikan harta/uangnya (dalam bersedekah) itu dilakukan hanya sekali atau dua kali saja, atau mungkin dalam pemberian itu karena terpaksa (karena gengsi, dan sebagainya). Jadi pemberian tersebut mestinya tidak dikehendaki, atau mungkin dalam pemberian itu masih memerlukan perhitungan dan pemikiran (masih merasa berat).

Tujuan akhlak adalah menggapai suatu kebahagiaan hidup umat manusia baik di-dunia maupun diakhirat. Karena itu, kita sebagai manusia untuk hidup saling memban-tu baik dari pekerjaan, kebutuhan atau yang lainnya.

Berkenaan dengan manfaat mempelajari Ilmu Akhlak ini, Ahmad Amin mengata-kan sebagai berikut:

Tujuan mempelajari Ilmu Akhlak dan permasalahannya menyebabkan kita dapat menetapkan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang baik dan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang buruk. Bersikap adil termasuk baik, sedangkan berbuat zalim                                                                                                            

 termasuk perbuatan buruk, membayar utang kepada pemiliknya termasuk perbua-tan baik, sedangkan mengingkari utang termasuk perbuatan buruk.

Selanjutnya  Mustafa Zahri mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu, ialah untuk membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima Nur cahaya Tuhan.

Selain itu ilmu akhlak juga akan berguna secara efektif dalam upaya membersihkan diri manusia dari perbuatan dosa dan maksiat. Diketahui bahwa manusia memiliki jasmani dan rohani. Jasmani dibersihkan secara lahiriah melalui fiqih, sedangkan rohani dibersihkan secara bathiniah melalui akhlak.4

B.   Pengertian dan Tujuan Mempelajari Ilmu Tasawuf

Dari segi bahasa terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubung-hubungkan para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf. Harun Nasution, misalnya menyebutkan lima istilah yang berkenaan dengan tasawuf, yaitu al-suffah (ahl al-suffah), (orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Mekkah keMadinah, saf (barisan), sufi (suci), sophos (bahasa Yunani: hikmat), dan suf (kain wol). Keseluruhan kata bisa-bisa saja dihubungkan de-ngan tasawuf. Kata ahl as-suffah (orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Mekkah ke-Madinah) misalnya menggambarkan keadaan orang yang rela mencurahkan jiwa raga-nya, harta benda dan lain sebagainya hanya untuk Allah. Mereka ini rela meninggalkan kampung halamannya, rumah, kekayaan dan harta benda lainnya diMekkah untuk hijrah bersama Nabi keMadinah. Tanpa ada unsur iman dan kecintaan pada Allah, tak mungkin mereka melakukan hal yang demikian. Selanjutnya kata saf juga menggambar-kan orang yang selalu berada dibarisan depan dalam beribadah kepada Allah dan me-lakukan amal kebajikan. Demikian pula kata sufi (suci) menggambarkan orang yang selalu memelihara dirinya dari berbuat dosa dan maksiat, dan kata suf (kain wol) meng-gambarkan orang yang hidup sederhana dan tidak mementingkan dunia. Dan kata sophos (bahasa Yunani: hikmat) menggambarkan keadaan jiwa yang senantiasa cende-rung kepada kebenaran.

Dari segi Linguistik (kebahasaan) ini segera dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak yang mulia.

Adapun pengertian tasawuf dari segi istilah atau pendapat para ahli amat bergan-tung kepada sudut pandang yang digunakannya masing-masing. Selama ini ada tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisikan tasawuf, yaitu sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas, manusia sebagai makhluk yang harus ber-juang, dan manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia, dan me-musatkan perhatian hanya kepada Allah swt.

Selanjutnya jika sudut pandang yang digunakan manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Dan jika sudut pandang yang digunakan manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai kesadaran fitrah (Ketuha-nan) yang dapat mengarahkan jiwa agar tertuju kepada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan.

Jika ketiga definisi tasawuf diatas satu dan lainnya dihubungkan, maka segera tampak bahwa tasawuf pada intinya adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegia-tan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia, sehingga tercer-min akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah swt. Dengan kata lain tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Inilah esensi atau hakikat tasawuf.5

Tujuan tasawuf adalah ma’rifatullah (mengenal Allah secara mutlak dan lebih jelas. Tasawuf memiliki tujuan yang baik yaitu kebersihan diri dan taqarrub kepada Allah. Namun taswuf tidak boleh melanggar apa-apa yang telah secara jelas diatur oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik dalam aqidah, pemahaman ataupun tata cara yang dilaku-kan.

Faedah tasawuf ialah membersihkan hati agar sampai kepada ma’rifat terhadap Allah Ta’la sebagai ma’rifat yang sempurna untuk keselamatan diakhirat dan mendapat keridhaan Allah Ta’la dan mendapatkan kebahagiaan abadi.6

BAB III

KESIMPULAN

 

Akhlak merupakan hiasan diri yang membawa keuntungan bagi yang mengerjakan-nya. Ia akan disukai Allah dan disukai umat manusia dan makhluk lainnya. Didalamnya ternyata memberikan bimbingan yang optimal secara bathiniah dapat mengintegrasi-kan jiwa manusia.

 

Tasawuf yang oleh sebagian orang dianggap mengandung unsur penyimpangan dari syariat Islam dan didaulat sebagai biang keladi pembawa kemunduran ternyata tidak dapat dibuktikan. Ajaran tasawuf dapat dicari dasar-dasarnya secara jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan sebagian besar ulama telah membuktikannya dengan jelas. Sebagai ilmu ijtihad manusia, akhlak tasawuf sama dengan ilmu lainnya. Disana ada kelemahan, kekurangan, keistimewaan dan kelebihannya. Kiranya cara bijaksana yang perlu kita tempuh adalah apabila kita mengambil keistimewaan dan kelebihan dari tasawuf itu memandu hidup kita, dan meluruskan paham-paham yang kurang propor-sional.


DAFTAR PUSTAKA

 

A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1995)

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: PT. Syaamil, 2005)

H. Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006)





1 Drs. H. A. Mustofa,Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1995), hal. 11-13

2 Ibid, hal. 13-14

3 Ibid, hal. 15

4 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: PT. Syaamil, 2005), hal. 37

5 Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 179-181

6 Departemen Agama RI, op.cit, hal. 69

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images